Kunjungi Juga Klub Sastra Kami

SASTRA MEDUSA
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2013

Senyumku Di Desember (SIA)

Pada Desember ini,
Aku mengulum senyum
Mengahangatkan beku hati
Yang sejak lama tertidur
                Ini sudah waktunya, barangkali
                Membelai angin, dibelai asa
                Dengan satu tatapan pasti
                Dari mata coklat miliknya
Satu yang rapuh, menguat
Satu yang mustahil, terjadi
Karena aku telah menemukannya
Pada Desember ini
Saat aku mengulum senyum


Senin, 23 Desember 2013

Merah Dan Hitam (SIA)

Kumenulis di atas kertas
Dengan tinta merah
Goresan pena ini terasa panas
Meski tanganku sedang lemah
                Kalau boleh, aku ingin menghitamkan
                Barisan kata bertinta itu
                Dalam kesunyian, dengan perlahan
                Sambil menikmati berlalunya waktu
Namun, kertasku yang putih
Tetap bertinta merah, pudar
Tak mampu kuberusaha lagi
Menghilangkan amarah ini, dari jiwaku yang memar

Tak mampu lagi

Minggu, 11 Agustus 2013

Embun Dan Sinar (SIA)

Setitik embun di pagi itu
Menyatukan dua helai daun
Saling memagut dalam haru
Tanpa bisa dihadang lamun
            Namun ingatkah, kala seberkas sinar mentari
Datang, dalam genggaman suram
Yang hentikan hikmat tari
Dalam rentang samudera dalam
Enam puluh enam purnama berlalu
Kucilkan sisi diri yang terayun
Dalam mangu tak tergugu
Embun dan sinar itu, merabun
            Kini, aku datang pada taman kenangan
            Merapuhkan diri dalam kering daun
            Mengikis setiap khayalan
            Akan indahnya hidup menahun
Tanpa embun, tanpa cahaya
Tanpa tarian, tanpa daya
            Kuhilangkan sukmaku dalam hening
            Berharap tubuhku mengangkasa
            Membasahi jiwaku yang kering
            Melampaui angan yang mustahil terasa
            Bersatu dalam embun bening

            Bersatu dalam sinar abadi, sepanjang masa

Dingin Dan Sepi (SIA)

Dingin, sepi
Mereka jauh, pudar oleh kabut
Kesendirian yang tampak menyiksa
Sungguh membuatku nyaman
Meski alam melihat sedikit kemunafikanku
Pada sendu yang bertopeng ramai
                Mereka hanya sebatas angin
                Dekat, lembut, tak tergapai
                Yang kubutuhkan hanyalah jaring
                Tuk menangkap rasa gelisahku, bukan dalam bentuk angin
                Yang mengabutiku, dalam keheningan yang terasa nyaman
                Namun dingin, dan sepi



Asa Dalam Genggaman (SIA)

Langkah yang pelan
Mengiringi langit yang senantiasa hitam
Mengiringi asa akan harapan
Dalam genggaman palsu yang mencekam
Mereka tak pernah membantu, hanya memandang
Ke dalam awan gelap dalam diriku
Pada akhirnya buatku berlari kencang
Kutepis kepalsuan dalam senyum mereka yang lancang
Kutepis kepalsuan dalam tawaku
Kutepis kepalsuan dalam harapan yang melayang
Hampir terasa pasti
Rasa bahagia nyata yang jauh
Hanya butuh selangkah lagi
Dan aku terus berlari tanpa jenuh
Langkah yang kencang
Mengiringi langit yang membiru
Mengiringi asa akan harapan yang tenang

Dalam genggaman nyataku, dalam haru

Pena (SIA)

Pena ini menggoreskan sesuatu tak bertema
Terus menari di atas kertas tipis
Mengikuti jiwa penulis, yang tak berarti
Pena ini akan setia pada hatiku
Karena kami sama
Menorehkan takdir kosong pada lembar kehidupan
Mengkhayal yang tak mungkin,
Melupakan yang pasti tertulis
Kami hanya akan terus berjalan
Pada takdir kosong, bersama-sama
Karena kami sama
                

Selasa, 06 Agustus 2013

Satu - Sepuluh (SIA)

Satu, dua, tiga
Satu yang lemah, tersenyum
Menghitung waktu tanpa tenaga
Untuk raga yang tidak mati ini, belum
            Kalau saja Kau mengerti
            Aku tak akan meminta
            Ku kan tersenyum sepenuh hati
            Yang tak hanya di mata
Delapan, Sembilan, sepuluh
Hitungan mengulur senyum
Tak ada senyum lagi, melainkan peluh
Kini kumengerti, waktu hanya setipis jarum
Yang tak punya kuasa atas-Mu
            Dan aku mendapat peran kecil
            Aku, bagai setetes air di jarum itu
            Setetes air terkucil
            Yang setia mengeluarkan air mata, satu-persatu
Kalau saja Kau mengerti
Aku tak akan meminta lebih

Ku hanya belum ingin mati

Percakapan Bisu (SIA)

Hangat dan sunyi
Mengalir di antara kita
Kita saling menatap, dalam
Mengerti apa yang tak perlu disuarakan
                Satu waktu berjalan pasti
                Membawa jiwa yang utuh
                Merasa dalam getaran euforia
                Yang terkadang sepi
Mengertilah kita, karena mendengarkan
Percakapan di musim semi yang bisu,
Setelah musim dingin berlalu,
Apa yang tak perlu diperdengarkan
                Dua tangan yang menggenggam kembali
                Tak perlu diragukan maknanya
                Kau pasti mengerti
Karena sejak lama, kita mengerti

Kamis, 18 Oktober 2012

Ku Lelah Menanti (SIA)

Kelabu mewarnai hariku
Utuh jiwa ini, terkoyak sudah

Lembaran hidup jauh kutempuh
Entah mengapa, tak kunjung buatku berubah
Lara, yang senantiasa temani
Apa kau mengerti?
Helaan nafasku siratkan duka

Memang, mereka senantiasa hadir
Embusan angin layaknya penyemangat hidup
Namun, aku bagai semut di tengah danau
Aku terkucil
Nah, ingin kuakhiri lembaran jenuh hidupku
Tuk menggapai dunia pasti, hilangkan rasa tertekan
Imitasi dunia yang kuharapkan, sempurna.


Selasa, 15 November 2011

Kasih yang Pudar (SIA)


Lihatlah batas-batas cakrawala
Mereka menggelap
Menyambut angin dingin membuai kapas di langit
Dingin, riuh keramaian
Menjadi latar belakang kesendirianku
Kesepianku
Kesedihanku
Bagai laut yang tak lagi mengandung buih
Bagai semut kehilangan pasir lembapnya
Layaknya kasih sayang yang kumiliki
Sudah tak lengkap seperti dulu
Sudah tiada tempat untuk berteduh
Aku memaklumi langit menangis kini, bersimpati
Namun aku tak bisa memaafkan keriuhan dunia
Kekejaman manusia
Yang tak peduli pada apapun selain raga masing-masing
Tak peduli dengan kesusahan
Orang kecil sepertiku

Selasa, 22 Maret 2011

Pagi (SIA)

Langit hitam
Masih menaungi dinginnya malam
Nyanyian alam semakin menyepi
Rembulan tersenyum lambaikan tangannya
Jauh pergi bawa titik-titik cahaya
Di langit
Mentari muncul malu-malu
Pudarkan pekat di langit
Kini ia menyapa bumi dengan sinarnya
Hangat
Ku tersenyum
Ia tlah tiba

Malam dan Pagi (SIA)

Sunyi malam perlahan mengagungkan malamnya
Tiada cahaya mentari lagi yang mampu menghalaunya
Sesaat setelah langit jingga memudar
Berganti biru tua nan luas tanpa batas
Kesenyapan perlahan menyelimuti
Yang perlahan tlah digusur olehnya
Bermandikan nyanyian binatang malam
Kegelapan, kepekatan
Perlahan terusik oleh hadirnya rembulan
Yang menetaskan bintik-bintik cahaya
Kunang-kunang
Angin pun berebut
Saling berkejaran tanpa tujuan
Detik-detik berlalu lambat
Berganti perlahan demi perlahan
Mengiringi lintasan angin dingin
Menyeret paksa lautan awan
Menyurutkan terang rembulan
Pun sang angin seolah enggan menampakkan cahaya bulan kembali
Bulan yang sedang penuh
Berusaha agar tetap dapat menduduki singgasananya
Maka ia semakin terang memaparkan cahayanya
Yang akhirnya angin pun terpaksa mengalah
Kembali menyeret awan
Duduk di hadapan muka bulan
Malam itu kembali senyap
Dengan corak langit biru yang semakin menua
Mengiringi detik-detik waktu
Hingga langit jingga kembali menampakkan dirinya
Dan sang mentari berganti dengan sang bulan
Menduduki singgasana maha luasnya
Di langit yang perlahan membiru muda itu..

Dunia Yang Terjamah (SIA)

Desir pasir sapukan alam
Lapisi batu teronggok sepi
Payungi daun hijau berseri
Tutupi sarang kawanan semut
Tanah subur nan lebat
Tlah ternoda jamahan manusia
Dunia hijau kini termakan
Ketamakan rasa manusia
Tidakkah kalian sadar
Gemerlap mewah bangunan kau miliki
Terbungkus oleh dunia kegersangan
Saksi kerakusanmu
Terhadap dunia ini
Buka mata batinmu
Tunjukkan kepedulianmu
Terhadap dunia luar
Dunia hijau yang tersisa
Menanti belas kasihmu
Di alam-Nya ini

Kamis, 19 Agustus 2010

Dunia Ini (oleh Shabrina)

Desir pasir sapukan alam
Lapisi batu teronggok sepi
Payungi daun hijau melayu
Jamahi hijau dunia ini

Tanah subur nan lebat
Tlah ternoda jamahan manusia
Dunia hijau kini termakan
Ketamakan rasa manusia

Tidakkah kalian sadar
Gemerlap mewah bangunan kau miliki
Terbungkus oleh dunia kegersangan
Saksi kerakusanmu
Terhadap dunia ini

Bukalah mata batinmu
Tunjukkan kepedulianmu
Terhadap dunia luar
Dunia hijau yang tersisa
Menanti belas kasihmu
Di alam-Nya ini


Karya : Shabrina Izzati Adliah

 
Copyright (c) 2010 open your eyes to this big world... . Design by WPThemes Expert

Blogger Templates and RegistryBooster .